Friday, August 31, 2007

DI KAKI HIRA'

DI KAKI HIRA'

Di puncak tanjung munggu batu,

aku tengadah, ke bukit-bukit terjal: Jabal Nur,
azmat...., terpaku kuat ke bumi Tuhan,
langit diatasnya biru bening.

"Mengapa ya Muhammad"
dalam usia muda-tampan 30-40-an
engkauberpanas-berembun siang-malam di bukit-batu
menyisih dari kemegahan Quresi......,
Bila tak ada sesuatu yang mendesak dari dalam.....?

Ganjil bila direnungkan,
walaupun engkau asal Mekah,
taoi, Siapa yang membisikkan bahwa di bukit-batu
yang jauh dari Mekah ini,
ada gua-batu yang sangat aman dan damai,
yang memungkinkan memandang Mekah,
dengan segala kemegahan palsunya,
dan achirnya memungkinkan turun atasmu Wahyu Suci!

Di puncak tanjuan munggung batu,
aku merasakan, malah serasa aku menampak,
betapa hebatnya,.....Jibril datang memagut engkau
dengan sayapnya yang putih bersih,
membentang memerah-langit
dan aku merasa menampak,
engkau bergegas turun menuju pulang,
ke rumah Ibu kami Ummul-Mukminin,
aku dapat merasakan,
engkau sampai berkata: selimuti aku, selimuti aku!
engkau takut,...takut,...tapi rindu,
Memang engkau telah berhubung dengan Alam Malaku
engkau telah dipilih dan diangkat jadi Rasululullah!
...Ini kejadian seribu-empat-ratus-tahun-lalu.

Dan wahyu yang turun kepadamu itulah,
masih membahana-terus sampai kini,
menentang segala kegelapan,
di Planit bumi,
Ya Muhammad, benar-benar engkau Rasullullah.....!


Kaki Jabal Nur 24 Zulhijah 1392H, 9 Februari 1972M

Bersama M. Natsir

Bersama M. Natsir, mantan Perdana Menteri RI pertama.
Tidak banyak yang kita ketahui tentang apa yang dilakukan Papa semasa perjuangan fisik melawan penjajahan Belanda. Karena memang Papa tidak banyak cerita tentang dirinya terutama apa yang dilakukannya semasa revolusi kemerdekaan. Ada yang bilang bahwa pada masa mudanya Papa pernah menulis novel. Tapi ada sedikit yang kita tahu dari buku Prof Buya Hamka ' Kenang-Kenangan Hidup' yang diberikan Papa waktu kalau tidak salah setelah Tony tinggal di Australia.

"Asal semangat iman teguh kuat, Belanda tidak akan dapat menaklukkan kita!"

Sehabis makan minum, diapun meneruskan perjalannya. Dan kawannya Datuk Penghulu Sati Alimin, rupanya bersembunyi di kampung itu pula. Diiringkan oleh kawan itu, dia pun meneruskan perjalanan. Di Tanjung Bunga mereka bermalam! (hal 205).

Wednesday, August 29, 2007

Bangil, 1941

Mengunjungi A. Hasan, ulama Islam terkenal di Bangil, yang juga mentor Bung Karno.